Tuesday, 18 June 2013 08:59 (GMT+7)

Berau Bangun Conveyor Belt dan Pembangkit US$ 280 Juta

BY Dudi Rahman & Ignasius Laya

JAKARTA (IFT)- PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), emiten di sektor pertambangan batu bara dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 10,29 triliun, akan membangun conveyor belt dan pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas 2X20 megawatt di situs tambang Binungan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur senilai total US$ 280 juta. Rosan Perkasa Roeslani, Direktur Utama Berau Coal Energy, mengatakan pengembangan kedua proyek tersebut akan dimulai pada November 2012, karena saat ini dalam proses tender rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (EPC).

Berau akan mengandalkan kas internal untuk mendanai proyek conveyor belt senilai US$ 200 juta dan pembangkit US$ 80 juta. Menurut Rosan, hingga akhir Juni 2012,  Berau memiliki kas dan setara kas di atas US$ 500 juta, lebih tinggi dari kas periode sama 2011 sebesar US$ 383,58 dan 2010 senilai US$ 457,26 juta. “Kami tidak berencana refinancing,” katanya, Selasa.

To continue reading please subscribe or

Good Week for ...

Good Week for..
PT Japfa Compeed Indonesia Tbk (JPFA), emiten pakan  ternak, menganggarkan belanja modal 2013 sebesar Rp 1,4 triliun, naik  tipis dibanding belanja modal tahun lalu Rp 1,36 triliun. Menurut direksi perseroan, sebagian beasr dana belanja modal akan digunakan untuk mendukung usaha breeding farm yang menghasilkan day old chick (DOC) breeding, ekspansi pakan ternak, dan budidaya ikan.

PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA), emiten produsen rokok pemilik pangsa pasar terbesar keempat di Indonesia, memperoleh pinjaman  senilai Rp 5,3 triliun dari perusahaan  terafiliasi. Menurut direksi perseroan, rencana pemberian pinjaman itu akan dilakukan pada Agustus 2013.

PT BW Plantation Tbk  (BWPT), emiten perkebunan sawit, memproyeksikan hingga semester I 2013 penggunaan anggaran belanja modal mencapai Rp 500 miliar, 50% dari total anggaran belanja modal perseroan tahun ini Rp 1 triliun. Sebagian belanja modal yang telah terserap antara lain untuk pembebasan lahan dan melanjutkan pembangunan pabrik.


Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia menyetujui izin PT First Media Tbk (KBLV) untuk pindah layanan broadband wireless access (BWA) dari teknologi worldwide ineroperability for microwave access (WiMax) ke teknologi Time-Division Duplex Long Term Evolution (TDD LTE). Pindah teknolog ini dilakukan karena teknologi WiMax tidak berkembang.

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), perusahaan investasi Grup Bakrie, akan menyelsaikan divestasi anak usahanya, PT Bakrie Pipe Industries paling lambat awal Agustus 2013. Menurut direksi perusahaan, dana akuisisi ini akan digunakan untuk membayar utang dan pengembangan infrastruktur. Perusahaan kemungkinan menjadi pemegang saham minoritas Bakrie Pipe.

PT Trimegah Asset Management, perusahaan manajer investasi anak usaha PT Trimegah Securities Tbk (TRIM), membukukan kenaikan pendapatan sebesar 16,52% menjadi Rp 23,28 miliar hingga kuartal I 2012 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 19,98 miliar. Kenaikan pendapatan ini lebih banyak ditopang oleh reksa dana saham.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menargetkan pembiayaan perumahaan melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tahun ini tumbuh 95% hingga 100%. Menurut direksi, target ini lebih tinggi dibanding angka pertumbuhan FLPP tahun lalu yang mencapai 58% menjadi 60.631 unit rumah.

Unit usaha syariah PT Bank Permata Tbk (BNLI) akan mempertahankan rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga atau financing to deposit ratio (FDR) di level 90% hingga 95% pada tahun ini. Menurut pejabat perseroan, pembiayaan tahun ini tidak akan terlalu agresif agar likuiditas unit usaha syariah Bank Permata tetap terjaga.

Bad Week for ...

PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA), emiten produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya, memproyeksikan margin kotor tahuni sebesar 20%-23%, turun 399 basis pin-699 basis poin dibanding tahun lalu 26,99%. Penurunan margin kotor tersebut sebagai dampak dari koreksi harga komoditas sepanjang semester I 2013.

Bumi Plc, yang menguasai 84,7% saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan 29,2% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dinilai telah mengeluarkan laporan tahunan yang tidak akurat dan keliru. Menurut mantan direktur utama Berau Coal, ada informasi dalam laporan  thaunan Bumi Plc yang tidak akurat, setelah berhasil  diverifikasi dengan catatan dan dokumentasi legal yang ada. Informasi yang tidak akurat itu antara lain mantan dirut Berau Coal menerima remunasi yang ditentukan komite remunerasi  Berau Coal tanpa sepengetahuan Komite Remunerasi Bumi Plc. Pernyataan manajemen Bumi Plc itu dinilai menyesatkan dan bermotif politik.

X close
Loading
X close