Pemegang Saham Ganti Harry Sasongko Sebagai Direktur Utama Indosat
JAKARTA (IFT) - Pemegang saham PT Indosat Tbk (ISAT), melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Senin, mengganti posisi Harry Sasongko sebagai Direktur Utama dan Chief Executive Officer PT Indosat kepada Alexander Rusli. Selain mengganti posisi Direktur Utama, pemegang saham juga menambahkan jabatan Komisaris Independen kepada Rudiantara. Berdasarkan rilis resmi perusahaan, Senin, Harry Sasongko efektif meninggalkan jabatan Direktur Utama pada 1 November 2012. Alexander Rusli sebagai penggantinya sebelumnya menjabat sebagai Komisaris Independen perusahaan sejak 2010. Alexander Rusli saat ini menempati posisi sebagai Komisaris di PT Tugu Pratama Indonesia, dan sebagai Managing Director di perusahaan private equity fund Northstar Pacific. Alexander sebelumnya pernah menjabat sebagai Komisaris Independen PT Krakatau Steel, Staf Ahli Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Informasi. Perusahaan dalam keterangan resmi tidsk menyebutkan posisi baru Harry Sasongko. Tetapi Harry dinilai berhasil membawa Indosat melalui kompetisi pasar yang ketat sejak 2009. Beberaqpa prestasi Harry seperti meningkatkan profil keuangan dan sukses memonetisasi aset non-inti. Pemegang saham juga menunjuk Rudiantara sebagai Komisaris Independen perusahaan per 1 November 2012. Komisaris Independen lain yang ditunjuk yakni Richard Farnsworth Seney. Seney sebelumnya menjabat sebagai Komisaris perusahaan. Pengangkatan Seney efektif per 18 September 2012. Pada semester I 2012, Indosat membukukan pendapatan Rp 10,4 triliun atau naik 3,3% dari periode sama tahun lalu. Kontribusi terbesar terhadap pendapatan perusahaan berasal dari layanan seluler, yakni 82%. Sisanya berasal dari pendapatan layanan data dan komunikasi tetap. Sebelumnya pada Mei lalu, operator seluler PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom, mengalami pergantian dewan direksi secara total. Susunan dewan direksi baru Telkomsel sebagai berikut: Alex J Sinaga menjabat sebagai President Director Telkomsel, Mas'ud Khamid (Director of Sales), Heri Supriadi (Director of Finance), Herdy Rosadi Harman (Director of Human Capital Management), Abdus Somad Arif (Director of Network), Edward Ying Siew Heng (Director of Planning and Transformation), Ng Soo Kee (Director of IT), dan Goh Hui Min Rachel (Director of Marketing). Eddy Kurnia, Head of Corporate Communication and Affair PT Telkom, mengatakan dewan direksi Telokmsel itu berdasarkan hasil keputusan pemegang saham, yang berlaku efektif mulai Rabu, 16 Mei 2012. “Diharapkan dengan formasi direksi baru ini, Telkomsel dapat meningkatkan kinerja usahanya yang jauh lebih bagus. Transformasi bisnis Telkom dan Telkomsel juga diharapkan melaju dengan pesat,” kata Eddy. Per semester I 2012, Telkomsel berkontribusi signifikan terhadap kenaikan pendapatan Telkom. Pendapatan Telkomsel tumbuh 9,5% menjadi Rp 25,4 triliun. Jumlah pelanggan Telkomsel naik 6,7% menjadi 117,2 juta pengguna. (*)
Good Week for ...PT Bukit Asam Tbk (PTBA), emiten perambangan batubara, diproyeksi tidak akan terpengaruh fluktuasi harga batubara karena produksi batubara perseroan telah kontrak dengan penyesuaian harga dilakukan setiap kuartal, semester, dan tahunan. Sejak 2012 hingga Amret 2013, Bukit Asam memiliki kontrak penjualan batubara jangka panjang mencapai 537,5 juta ton.
PT Asahimas Chemical, sister company dari PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG), akan menambah investasi US$ 300 juta-US$ 400 juta untuk ekspansi pabrik pengolahan bahan kimia hilir. Ekspansi tersebut rencananya direalisasikan akhir tahun ini di lokasi pabrik existing perseroan di Cilegon, Banten.
PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY), menargetkan pertumbuhan pendapatan usaha pada kurtal II 2013 secara tahunan lebih tinggi dibandingkan kuartal I. Hingga akhir tahun ini perseroan menargetkan total pendapatan usaha mencapai Rp 3,2 triliun. Pada kuartal I, perseroan membukukan pertumbuhan pendapatan secara tahunan sebesar 30% menjadi Rp 686 miliar.
Axiata Group Berhad, perusahaan telekomunikasi Malaysia, sedang mengevaluasi rencana pembelian PT Axis Telekom Indonesia, operator seluler Axis. Penawaran pembelian terhadap Axis ini dilakukan melalui PT XL Axiata Tbk (EXCL), anak usaha Axiata Group di Indonesia.
PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID), emiten properti, mencatatkan kenaikan pendapatan usaha menjadi Rp 47 miliar pada kuartal I 2013, naik 56,6% dibanding periode sama tahun lalu Rp 30 miliar. Kenaikan pendapatan sebagian besar didorong oleh peningkatan jumlah kamar dan tingkat hotel yang dimiliki perseroan. Laba bersih perseroan juga naik tipis dari Rp 2 miliar menjadi Rp 3 miliar.
PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), perusahaan pembiayaan perumahan, berencana menerbitkan obligasi berkelanjutan II tahap III sebesar Rp 1,18 triliun pada semester II 2013. Dana pernbitan obligasi tersebut akan digunakan untuk merealisasikan target penyaluran pendanaan untuk pembiayaan perumahan senilai Rp 3,5 triliun.
Rencana PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) untuk meningkatkan kontribusi pendapatan dari sektor jasa keuangan mulai membuahkan hasil. Berdasarkan laporan keuangan, kontribusi pendapatan Bhakti dari sektor jasa keuangan meningkat jadi 7,75% pada kuartal I 2013 dibandingkan peridoe sama tahun lalu yang hanya 7%. Pendapatan sektor jasa keuangan hingga Maret 2013 tumbuh 38,7% menjadi Rp 201 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 145 miliar.
Bad Week for ...PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS), badan usaha milik negara di sektor distribusi dan transmisi gas, menyatakan pipa transmisi gas ruas Sumatera Selatan-Jawa yang berada di bawah laut mengalami kebocoran pada Selasa pagi. Lokasi kebocoran berada pada 23 meter di bawah laut pada jalur Labuhan Maringgai-Muara Bekasi, di sekitar Pulau Damar, Kepulauan Seribu. Perseroan telah melokalisai sekitar wilayah kebocoran untuk menghindari dampak yang membahayakan bagi keselamatan transportasi kelautan, nelayan, dan operasional penyaluran gas bumi.
Freeport-McMoRan Copper and Gold Inc, induk usaha PT Freeport Indonesia, akan mengevaluasi seluruh operasi bawah tanah pada tambang Grasberg, Papua setelah runtuhnya fasilitas latihan di Big Gossan. Perseroan bekerja sama dengan tim investigasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan menyelidiki runtuhnya fasilitas latihan tersebut.
Divestasi PT Bank Mutiara Tbk (BCIC) senilai Rp 6,7 triliun kembali gagal setelah Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan tidak ada satupun calon investor yang memenuhi persyaratan administratif. LPS telah menutup pendaftaran divestasi Bank Mutiara bagi calon investor yang berminat pada 15 Mei 2013. Lembaga itu juga telah melakukan penilaian dan prakualifikasi terhadap berkas calon investor yang mendaftar. Berdasarkan penilaian dan prakualifikasi, tidak terdapat calon investor yang memenuhi persyaratan administrative, sehingga proses penjualan saham Bank Mutiara dinyatakan selesai.
Kinerja saham emiten pelayaran yang tercatat di Bursa Efek Indonesia cenderung kurang mendpat apresiasi investor. Kinerja saham lima emiten palayaran dari 13 emiten di sektor tersebut, melemah sepanjang Januari-Mei 2013. Kelima saham yang emiten pelayaran yang terkoreksi harganya adalah PT Pelayaran Tempuran Mas Tbk (TPMA) 23,32%, PT Rigs Tenders Indonesia Tbk (RIGS) terkoreksi 16,48%, PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM) turun 16,96%, PT Pelayaran Nely Dwi Putri Tbk (NELY) turun 6,03%, dan PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) turun 5,59%.
MOST READ
Our Latest Event
Economic Outlook 2013
Menjaga Pertumbuhan Pasar Modal dan Sektor Riil di Tengah Krisis Global
Hotel Dharmawangsa, Jakarta
19 Desember 2012



